Menikmati Sang Damai
Damai…
Berdiam diri dalam kesepian. Saatnya diri sendiri diperhatikan.
Keluhannya. Harapannya. Kelelahannya. Keinginannya.
Cermin-cermin muncul. Terlihat sebuah bayangan yang tidak asing. Bayangan yang tidak lain adalah diri sendiri. Seperti film biography. Aktornya diri sendiri.
Hanya ditemani gemericik air tanah. Mendekatkan rasa ini ke bumi. Damai sekali. Sangat nikmat. Indah.
Tidak lagi teringat masalah kerja, jalanan macet, korupsi, dimarah-marahin senior. Semua hilang di sini. Bersih. Suci. Seperti cancut baru dicuci. Udah emang dasarnya putih, dicuci pake abu gosok lagi.
Mata terpejam. Seolah ingin menggali lebih dalam. Konsentrasinya. Diamnya. Damainya. Hal yang sangat sulit didapat di kala kerja. Saat-saat sebagian besar waktu dalam sehari dihabiskan. Lama sekali dinikmati waktu-waktu seperti ini.
“Aduh!!” Terbangun pula dalam lamunannya. Rasa nyeri di lutut membuyarkan semuanya. Memang ingin rasanya lebih berlama. Tapi tubuh ini ternyata tidak kuat.
Memang sudah saatnya beranjak. Kembali ke urusan dunia. Kembali bekerja, berjuang atas apa yang diberkahkan olehNya. Segera diambilnya air, dan ditumpahkan ke sebuah lubang kecil. Dilakukannya berulang-ulang. Itu pula yang dilakukan pada badannya. Slempitannya. Hingga dirasakannya bersih. Suci. Layaknya cancut tadi.
Akhirnya ketika saatnya berpisah, ditengoklah ke belakang. “Ruang kecil yang damai, pasti ku kan kembali. Tidak akan lama. Besok kita akan berjumpa.”
—
Akhirnya kejadian juga nulis lagak puitis. Seperti Akunya Chairil Anwar, Racun dan Madunya Rhoma Irama, Goyang Dombretnya Inul Daratista, Rintihan si Nenek Gila. loh… loh…
Ohya, Kalo belum mudeng tulisan di atas, baca juga ini plus yang lebih parah.

Tinggalkan Balasan