header image
 

Into The Wild, Heeehaaa!!!

Akhirnya punya kesempatan nonton DVD lagi. Cihui!! Kali ini giliran Into The Wild. Drama memang. Cuma kalau denger dari resensi kok filem ini unik. Diambil dari kisah nyata tentang orang yang memutuskan untuk putus (*mules bacanya) dengan uang, material, dan segalanya. Malah mengasingkan diri ke alam sebagai pelarian dari ketergantungan dengan barang yang namanya uang lagi.(*hayah, pemilihan katanya njijiki) Kenapa nonton kaya ginian? Karena aku pernah memutuskan nonton sebuah filem drama (yang sebenernya sangat ndak suka) karena ada resensi dari sebuah Radio bahwa alur filemnya unik dan asik. Nama filemnya August Rush. Dan aku bilang secara keseluruhan filem ini lumayan oke.

Kembali ke Into The Wild. Jadi ada seorang pemuda, yang secara materi dia tidak bisa disebut kere. Karena bapaknya kerja di NASA, ibunya kerja sebagai konsultan. Bahkan di hari kelulusannya, mobil baru sudah disiapkan ortunya sebagai hadiah. Tapi malah dari situlah, awal cerita ini mengalir ke Bengawan Solo. Penasaran? Sebentar, ngupil dulu.

Akhirnya ia memutuskan untuk tidak perlu bergantung pada uang. Uang malah bikin sengsara. Ada pihak yang diperas, ada pihak yang memeras. Pastinya. Makanya orang-orang kaya gini jadi temennya para sapi. Dia pergi bertualang hanya dengan sebuah ransel, sepasang sepatu, selembar cawet, serumpun upil kering. Tapi yang paling penting, setumpuk tiket tekad. Layaknya kutu loncat di slempitan kelek kecut, dia pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Bertemu dengan orang-orang baru. Menceritakan tekadnya untuk pergi ke alam hanya untuk mendapatkan kebebasan yang mutlak (dia bilang “absolute freedom”). Sampai pada suatu saat, ketika bar di PowerDVD sudah hampir habis, ada kejadian menarik. Yaitu sadakj%^%&#&(*&(!(*&)!_$E(*!*&). Penasaran? Sek, tak ngupil dulu. Biar cepet, langsung dobel jarinya.

Ternyata, saya memutuskan untuk tidak bercerita. Saya hanya kepengin menilai. 45 menit pertama sedikit boring. FIlemnya lambat. Grengnya alon. Ngangkatnya dikit2. Jahene kurang. Kurang maknyus. Hasyah, apapun itu akhirnya terhibur dengan waktu yang tersisa. Karena (mungkin) akunya sendiri sudah bisa pasang setelan lambat. Stel kendo. Lebih asik lagi kalo scene eksplorasi alamnya lebih ditonyolin. Lebih dramatis. Karena hampir semua scenenya itu tentang alam. Tentu tanpa mbah dukun. Gak perlu sampai ngambil scene-nya proses kelahiran bayi beruang atau detik-detik kematian burung bangkai yang sudah buyut. Itu sudah ada bagian lain yang ngurusin. Mungkin perlu sedikit manipulasi atau teknik pengambilan cahaya. Seperti filem 300 yang selalu mendramatisir background-nya. Baik warna, objeknya, subjeknya, predikatnya, sisipannya, taling tarungnya.

Ohya, di akhir petualangan kebebasan dan kesendiriannya, dia sempat menuliskan sebuah kata “Love is Real When Shared”. I dunno exactly what the word is, so you have to check it out by yourself. Ohya, kata-kata sok inggris yang terakhir ini gak termasuk di filem.

~ oleh SlempitanJempolKaki™ di/pada Mei 15, 2008.

2 Tanggapan to “Into The Wild, Heeehaaa!!!”

  1. iki sing endi se fileme mas ? gak ono gambare…sopo sing main…sik sik melok ngupil disik….

  2. wah mas danang klo mo liat pilem glatis mbok datang ke mejanya mitp. ada banyak yang bs di unduh……

Tinggalkan Balasan