SLMPTN JMPL KK™

[Side A] : SATU

with 3 comments

Hai, namaku Dion. Itulah nama yang sering kuberi jika ada orang yang berkenalan. Tidak ada kartu nama. Cukup lisan saja. Well, kupikir itulah nama yang paling oke didengar, ketimbang Wadi atau Yono.
Ya.. Nama lengkapku Wadiono. Asal Brebes. Aku tidak mengganti nama, bahkan panggilanku masih beraroma nama asliku. Paling tidak, itulah bentuk rasa terima kasih kepada orangtuaku yang telah memberi nama.

Wadiono.. Bahkan mencari artinya di Google pun sulit..

Sudahlah, aku tidak mau menambah kerumitan lagi di pagi hari ini. Hidupku sudah rumit. Banyak deadline berita yang terlewat. Dan hari ini adalah deadline terakhir dari boss. Dan tidak terlintas sekalipun hal-hal yang menarik bagiku untuk dijadikan berita. Semuanya terlihat sama. Monoton. Membosankan. Tapi alasan ini tidak cukup menyakinkan boss untuk tidak memecatku jika deadline kali ini tidak terpenuhi.

Aku berjalan keluar kos, berharap mendapat berita seadanya. Bagiku, berita kali ini seharga kamar kos. Berharga. Sekaligus menegangkan. Bahkan kepergianku pagi ini dibalas tatapan bengis dari ibu kos yang lagi duduk santai di teras. Bagiku, itulah tanda permintaan hutangku malam nanti bakal tak terkabulkan. “Apa salah kalo berhutang dua bulan ?” Sempat terbersit menjual kamera kantor yang sekarang kubawa, cuma rasanya tidur di penjara bukanlah alternatif yang bagus. Gratis memang, cuma gak yakin pantat ini aman..

Jika aku diibaratkan dengan lebah, maka metromini adalah bunganya. Tiap hari kuhinggapi. Kuhampiri. Kududuki. Namun bedanya, bunga kali ini dengan teganya selalu meminta uang. Kududuk di kursi belakang kanan dekat jendela. Penumpang metromini tidak terlalu penuh. Sedang libur sekolah sepertinya. Terlihat seorang pria setengah baya berkumis sedang menyisir rambutnya berkali kali. Sementara di sampingnya duduk seorang perempuan berambut panjang berbaju putih. Seharusnya cantik..

Sementara di sudut lain tampak seorang kakek yang sesekali menengok sebelah, memandangnya cukup lama, kemudian kembali menghadap ke depan. Terlihat gelisah. Memang dari belakang tampak terjepit oleh wanita yang berbadan cukup gempal yang tertidur dengan kepala terantuk-antuk.

“Apa ini aja ya yang aku bikin berita? Sebuah berita yang tidak berbicara korupsi, sepakbola dan hal-hal pop lainnya. Ini realita..”

BRAAAK!!

Lamunanku buyar seketika setelah terdengar suara decitan ban dan berakhir dengan suara tabrakan keras. Terdengar pula suara unggas, ayam sepertinya. Dan metromini pun melambat, orang-orang berlarian ke arah sumber suara. Samar-samar terdengar jeritan atau makian.

Kecelakaan..
…ngg kurang dramatis…

KECELAKAAN..
Ini berita. Ini dia penyelamat hidupku. Inilah penyumpal ibu kosku. Inilah indomie gorengku. Inilah celana dalam baruku..

Segera aku bergegas turun, dan mengambil kamera. Tampak sudah keramaian di depan, beberapa orang berteriak sementara yang lainnya memandang tertegun. Suara-suara saling bersahutan tidak jelas. “Darah semua,” sepintas terdengar. Seorang bapak berkomentar, “Parah banget ya..”. “Sumpah bo, gua gak pengin liat,” jerit seorang cowok sambil berkali-kali melongok. Nampak sepatu cewek berhak tinggi dipakainya..

Naluri wartawan meningkat tajam. Kuterobos keramaian sambil berkali-kali bilang “wartawan”. Dan cukup berhasil membuka jalan. Sudah gak sabar kuhampiri lokasi tabrakan. Kamera sudah kupasang mode auto. Ya, aku tidak mau lagi kehilangan momen gara-gara salah setting. Terbayang sudah kalimat-kalimat dramatis di kepala. Kaki patah dua bagian seperti Sumatra dan Jawa, darah mengalir deras tiada henti bagai Bengawan Solo.

Dan pada saat itu aku tiba-tiba memilih berdiri dan berdiam. Tidak satupun bayangan kecelakaan parah yang terjadi. Yang ada hanyalah mobil box, motor terjatuh dengan sangkar ayam di belakangnya yang rusak, dan beberapa ayam yang mati terlindas. Ya, paling tidak ada ayam yang ususnya terburai. Sementara yang lainnya tinggal badan.

Baiklah… Mau apa lagi..

Kupotret seadanya. Ceprat sana sini. Sambil memikirkan kembali judul artikel yang akan digunakan. “Satu keluarga ayam meninggal mengenaskan”. “Akibat kelalaian manusia, mahluk lain jadi korbannya”. Ah, sudahlah.. Cukup. Aku sudah cukup lelah.

“Apa lagi ini ?” setelah kurasa ada tepukan di pundak. Ternyata seorang perempuan berbaju kantor. Formal. Tampak penasaran. Dengan polosnya dia mencoba bertanya tanya tentang kejadiannya. Ah menyebalkan. Buat apa? Apa untungnya dia tahu? Toh itu bukan cara dia mencari nafkah..

“Liat aja sendiri tuh!! Ada daging, darah, usus terburai, di jalan. Kira-kira aja sendiri.”

“Puas?!”, batinku.. Dan perempuan itu pun meninggalkan segera sambil bersungut tidak jelas. Sempat terdengar kata “makasih”. Aku pun melihatnya menghilang di keramaian.

Ah.. sudahlah.. aku sudah dapat fotonya. “Tinggal bikin redaksinya, dicetak, kasih ke bos..,” pikirku. Tampak metromini di depan dan segera kuhampiri. Kududuk kembali kursi dekat jendela. Kali ini tidak lagi memandang isi metromini. Sudah tidak lagi. Kali ini kuterawang jendela metromini. Membayangkan kembali kejadian tadi..

Dan kata “makasih” itu..

Cerita side B bisa dibaca di sini

Advertisements

Written by SlempitanJempolKaki™

January 8, 2011 at 9:33 pm

Posted in Uncategorized

3 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Wakakakaka… temenku ada yang beneran namanya Wadiono loh mas….. Tapi bukan asal tegal… 😀

    MoMo

    January 10, 2011 at 6:50 am

    • Mo, kayaknya saya kenal sama Wadiono kawanmu itu…. temen kuliah kamu toh? :p
      staf di bank sebelah bukan? hehe

      cicianggitha

      February 11, 2011 at 10:37 am

  2. wkwkwkwkwk…nyangkut link mba cici toh…

    enggaraguilera

    February 10, 2011 at 4:30 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: